Dosen Hukum Unmul: Kenaikan Gaji DPR Cermin Hilangnya Moralitas Politik

- Penulis

Minggu, 24 Agustus 2025 - 15:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah. (Photo: istimewa)

Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah. (Photo: istimewa)

BONTANG – Polemik rencana kenaikan gaji anggota DPR RI menuai kritik keras dari kalangan akademisi. Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah, menilai wacana tersebut bukan sekadar masalah finansial, melainkan bukti hilangnya moralitas politik para wakil rakyat.

Menurut Herdiansyah, DPR seharusnya menunjukkan solidaritas dengan rakyat yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi. “Kenaikan gaji di tengah krisis adalah tindakan yang tidak patut. Itu menandakan anggota DPR tidak memiliki sense of crisis terhadap penderitaan rakyat. Lapangan kerja susah, pengangguran bertambah, tetapi DPR justru berpikir untuk menaikkan gaji,” ujarnya, Minggu (24/8/2025).

Ia menekankan bahwa jabatan anggota DPR adalah amanah yang melekat dengan filosofi pengabdian, bukan jalan untuk memperkaya diri. “Anggota DPR itu wakil rakyat, bahkan dalam tanda petik pesuruh rakyat. Seharusnya mereka tidak boleh hidup lebih baik daripada rakyat yang diwakilinya,” tegasnya.

Baca Juga :  Berita Duka, Istri Gubernur Kaltim Norbaiti Meninggal Dunia di Jakarta

Herdiansyah menyebut sikap DPR saat ini mencerminkan lemahnya kesadaran etis dalam politik Indonesia. “Yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Filosofi pengabdian itu hilang, digantikan dengan budaya bermewah-mewahan. Ini jelas penghinaan bagi rakyat Indonesia,” katanya.

Baca Juga :  Semangat Gotong Royong Warga Loktuan, Raih Juara 3 di Lomba Flashmob Pupuk Kaltim Cup 2026

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa meningkatnya suara publik yang meminta pembubaran DPR merupakan tanda krisis legitimasi. “Tuntutan pembubaran DPR muncul sebagai bentuk kekecewaan masyarakat, karena mereka tidak lagi merasa terwakili. Itu adalah alarm keras bagi kualitas demokrasi kita,” tutupnya.

Berita Terkait

​Sambut Penilaian Adipura 2026, Kelurahan Satimpo Gelar Korvei Serentak di Seluruh RT
Lewat PKT BERSERI, Upaya PT Pupuk Kaltim Mendorong Kemandirian Petani dan Agrowisata di Bulutana Gowa
Usai Pimpin Aksi Sengketa Lahan di PT Indominco, Koordinator Pendemo Dipanggil Polres Bontang
Puluhan Tahun Tak Ada Kejelasan, Warga Gelar Aksi Tuntut Ganti Rugi dan Transparansi SHGB ke PT Indominco Mandiri
​Isu Bayi Tertukar dengan Bantal di RS Yabis Bontang, Pembuat Konten Minta Maaf dan Mengaku Hanya Rekayasa
Kasus Jenazah Bayi Diduga Ditukar Bantal di RS Yabis Bontang, Publik Desak Investigasi Terbuka Demi Pulihkan Kepercayaan
Ratusan Warga Ancam Tutup Jalur Hauling PT Indominco Mandiri, Tuntut Ganti Rugi Lahan Sejak 1994
Gelar UKW 2 Hari di Badak NGL, 19 Insan Pers Bontang Lulus Uji Kompetensi
Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 09:55 WIB

​Sambut Penilaian Adipura 2026, Kelurahan Satimpo Gelar Korvei Serentak di Seluruh RT

Minggu, 1 November 2026 - 08:52 WIB

Lewat PKT BERSERI, Upaya PT Pupuk Kaltim Mendorong Kemandirian Petani dan Agrowisata di Bulutana Gowa

Minggu, 1 November 2026 - 00:06 WIB

Usai Pimpin Aksi Sengketa Lahan di PT Indominco, Koordinator Pendemo Dipanggil Polres Bontang

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Puluhan Tahun Tak Ada Kejelasan, Warga Gelar Aksi Tuntut Ganti Rugi dan Transparansi SHGB ke PT Indominco Mandiri

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:39 WIB

​Isu Bayi Tertukar dengan Bantal di RS Yabis Bontang, Pembuat Konten Minta Maaf dan Mengaku Hanya Rekayasa

Berita Terbaru