BONTANG – Progres pembangunan batching plant di RT 14, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kota Bontang, menuai aksi penolakan dari warga sekitar. Penolakan tersebut dipicu oleh dampak polusi yang ditimbulkan, serta tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat sebelum pembangunan dilakukan.
Salah satu warga, Rina, menyebutkan bahwa warga yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan secara tegas menolak keberadaan batching plant tersebut. Menurutnya, aktivitas operasional nantinya akan melibatkan lalu lintas truk besar dan mobil molen yang intens, sehingga berpotensi mengganggu kenyamanan warga.
Selain itu, proses pembangunan yang sedang berlangsung juga dinilai telah menimbulkan polusi udara dan kebisingan. Debu yang semakin tebal, suara bising, hingga getaran mulai dirasakan warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Walaupun rumah saya tidak tepat berada di lokasi, kami tetap memikirkan dampak lalu lalang truk dan mobil molen. Apalagi warga yang paling dekat dengan lokasi pasti akan merasakan dampak paling besar, baik dari kebisingan maupun debu,” ujar Rina, saat ditemuu awak media, Minggu (31/1/2026).
Ia juga menyoroti proses pembangunan yang dinilai dilakukan secara tiba-tiba tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu kepada warga. Bahkan, warga baru mengetahui adanya proyek tersebut sekitar sepekan terakhir.
“Awalnya warga tidak tahu material masuk dari mana dan lewat jalur mana. Tiba-tiba alat sudah berdiri di lokasi. Warga sempat mengira perakitan dilakukan di lahan milik pengelola sendiri,” ungkapnya.
Warga baru menyadari keberadaan proyek batching plant pada 23 Januari 2026 lalu, saat truk-truk mulai sering melintas. Saat itu, mereka mengira kendaraan tersebut hanya mengangkut material koral, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
“Karena itu kami merasa dicurangi. Ini wilayah kami, tetapi pembangunan dilakukan tiba-tiba tanpa pemberitahuan yang jelas. Dari situ kami menilai sudah ada pelanggaran,” tegasnya.
Rina menambahkan, meski dalam rapat terakhir telah disepakati bahwa aktivitas pembangunan dihentikan sementara, warga tetap menyatakan sikap penolakan terhadap pembangunan batching plant tersebut.
“Jika kegiatan ini kembali dilanjutkan, kami akan menyampaikan penolakan yang lebih besar. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan dilakukan aksi demonstrasi,” pungkasnya.







