BONTANG – Perjuangan tim SAR gabungan melintasi gelombang dan cuaca ekstrem demi menemukan seorang nelayan asal RT 20 Bontang Kuala akhirnya usai. Setelah lima hari pencarian tanpa kenal lelah, korban yang dilaporkan hilang sejak Kamis (14/8/2026) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di perairan Teluk Prancis, Sangatta, Selasa (18/8/2026).
Pencarian yang melibatkan personel lintas instansi ini menyisakan cerita ketangguhan para petugas di lapangan. Tim yang terdiri dari unsur BPBD Bontang, AL, dan Basarnas harus berpacu dengan waktu sekaligus menghadapi ganasnya cuaca di laut lepas.
Faktor cuaca yang kerap berubah menjadi ancaman utama yang menghambat pergerakan armada pencari dari titik awal objek menuju area perairan Kandolo dan sekitarnya.
Kronologi & Dinamika Operasi Pencarian
- Kamis (14/8/2026): Pihak keluarga resmi melaporkan hilangnya korban saat melaut melintasi perairan Bontang. Tim BPBD langsung bergerak merespons laporan awal.
- Jumat–Senin (15–17/8/2026): Penyisiran masif dilakukan dari titik awal ditemukannya objek kapal/barang korban menyisir ke area Kandolo. Cuaca buruk beberapa kali memaksa tim menyesuaikan pergerakan.
- Selasa Siang (18/8/2026): Penyisiran di Teluk Lombok dan Sangatta sempat melaporkan hasil nihil. Sebanyak 8 personel gabungan (1 BPBD, 2 AL, dan 5 Basarnas) terus bertahan di tengah laut.
- Selasa Penutup: Informasi penemuan jasad korban akhirnya diterima dari perairan Teluk Prancis, Sangatta.
Kepala BPBD Bontang Usman, melalui Kabid BPBD Ismail, mengonfirmasi bahwa penemuan di titik Sangatta tersebut menandai berakhimya fase pencarian di laut. Usai ditemukannya korban di perairan tetangga tersebut, fokus tim langsung beralih pada proses evakuasi darat.
“Jasad korban sedang dievakuasi menuju Pelabuhan Tanjung Laut untuk penanganan lebih lanjut sebelum diserahkan penuh kepada pihak keluarga di Bontang Kuala,” Pungkasnya. (*)







