JAKARTA – Lolos menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat 2026 tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Julita Rista Lestari dan Gus Luthfy Azka Nararya. Bagi dua pelajar perwakilan Kalimantan Timur ini, keberhasilan menembus Istana Negara merupakan penuntasan amanat dan jejak disiplin yang telah ditanamkan oleh orang tua mereka sejak dini.
Julita, siswi SMA Negeri 1 Tabang, Kutai Kartanegara, tumbuh dalam cerita inspiratif kedua orang tuanya, Tesalonika dan Maria, yang merupakan mantan anggota Paskibraka tingkat kecamatan. Jejak tersebut memicu dorongan kuat dalam diri Julita untuk melangkah lebih jauh hingga ke tingkat nasional.
Tekad serupa dimiliki Gus Luthfy Azka Nararya, siswa SMA YPVDP Bontang. Mengalir darah kedisiplinan dari ibunya, Nur Hidayah Jalil—purna Paskibraka Kota Bontang 2008—Lutfi telah mengunci target menuju Istana sejak masih duduk di bangku SMP, terlebih setelah melihat keberhasilan kakak tingkatnya pada 2022.
Jalan Terjal dari Pelosok Daerah, Perjalanan Julita dan Lutfi menuju Jakarta melintasi proses pembinaan yang panjang:
1. Julita Rista Lestari (Kutai Kartanegara): Menjalani persiapan ketat selama tiga pekan di Tenggarong, mencakup baris-berbaris, pembentukan mental, tari, bahasa Inggris, hingga fisik.
Keberangkatannya dari kecamatan pelosok Tabang mendapat dukungan penuh fasilitas lokal serta dorongan moral langsung dari Bupati Kukar, dr. Aulia Rahman Basri.
Bagi Julita, perjalanan menuju tingkat nasional bukan proses singkat.Ia lebih dulu mengikuti tahapan seleksi di daerah, termasuk tes wawasan kebangsaan dan tes umum berbasis komputer. Motivasi Julita juga memiliki cerita keluarga.
“Saya ingin melanjutkan apa yang pernah dicapai orang tua saya. Selain itu, saya juga merasa memiliki potensi dari segi fisik,” ungkap Julita.
2. Gus Luthfy Azka Nararya (Bontang): Berbekal dorongan sang ayah, Ahmad Fauzi, Lutfi secara mandiri membedah proses seleksi, berkonsultasi dengan para senior, dan menggembleng fisiknya demi menjaga optimisme sejak awal. Tekad itu, juga tumbuh setelah Lutfi melihat kakak tingkat di sekolahnya berhasil menembus Paskibraka tingkat pusat pada 2022
Bagi Gus Luthfy Azka Nararya, seragam Paskibraka bukan sekadar pakaian untuk menjalankan tugas kenegaraan. Seragam itu menjadi simbol dari target yang sudah ia tanamkan sejak duduk di bangku SMP.
“Dari awal saya sudah optimistis. Saya harus sampai tingkat nasional, jangan hanya berhenti di level kota,” ujar pemuda yang akrab disapa Lutfi tersebut.
Puncak Pengukuhan di Istana
Perjuangan berlandaskan tradisi keluarga tersebut memuncak pada Sabtu (15/8/2026). Dikukuhkan langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama 74 anggota Paskibraka dari 38 provinsi, Julita bahkan dipercaya menjadi pemimpin upacara yang membacakan ikrar Paskibraka di hadapan para pejabat negara. [*]







